Jual Rumah di Kota dan Pindah ke Pedesaan? Why Not! Ini Untung Ruginya

Banyak orang yang merantau ke kota demi mendapatkan pekerjaan dan merubah nasib. Setelah karir berkembang, tak sedikit dari mereka yang akhirnya menetap dan membangun keluarga di kota. Namun bagi beberapa orang, kota dianggap bukan sebagai tempat tinggal yang ideal. Apalagi bagi mereka yang memasuki usia pensiun. Jika Anda pun yang masih muda saat ini terpikir untuk menjual rumah di kota dan memulai kehidupan baru di pedesaan, hal itu sah-sah aja. Namun, keputusan yang Anda ambil ada untung ruginya.


Ketika menjual rumah di kota dan pindah ke desa, Anda akan mendapatkan keuntungan finansial. Ya, harga jual rumah di kota akan lebih mahal daripada rumah di pedesaan. Ini artinya jika uang hasil penjualan rumah dipakai untuk membeli rumah di desa, kemungkinan besar Anda akan memiliki uang sisa yang bisa dimanfaatkan untuk memulai usaha ataupun keperluan lainnya.

Jika dibandingkan di kota, banyak potensi bisnis yang bisa dikembangkan di desa. Kompetitornya juga cenderung lebih sedikit. Dana untuk kebutuhan sehari-hari juga relatif lebih sedikit. Selain itu, lingkungan di desa juga masih dikelilingi pepohonan hijau sehingga lebih minim polusi udara. Jadi tak heran bila banyak yang setelah pensiun memilih untuk menikmati masa tua di desa.

Tak hanya itu, nuansa religi di pedesaan juga masih kental. Tak sulit menemukan anak-anak kecil yang sudah pandai membaca kitab suci. Atau ibu-ibu yang mengadakan pengajian rutin. Juga lantunan shalawat nabi biasanya sering terdengar dari masjid menjelang adzan. Budaya religius yang masih dijalankan oleh warga pedesaan mendorong kita untuk berpartisipasi di dalamnya, dan hal itu juga memberi dampak yang positif untuk diri kita.

Ketika Anda sudah mantap memutuskan, berarti Anda juga harus sudah siap menghadapi kekurangan-kekurangan hidup di desa. Beberapa kekurangan ketika hidup di desa antara lain:

· Pendidikan di desa cenderung tertinggal daripada kota. Keberadaan sekolah menengah atas biasanya lebih sedikit. Bahkan lokasinya jauh dari desa sehingga butuh biaya transportasi yang besar. Terkadang tak ada rute angkutan umum sehingga anak-anak sekolah harus naik ojek jika tak memiliki kendaraan sendiri. Jika ingin kuliah, anak mungkin harus merantau ke kota sehingga biaya yang harus dipersiapkan lebih besar.

· Selain sekolah, fasilitas umum seperti pusat kesehatan cenderung masih minim. Dengan kata lain, warga desa menjadi lebih sulit mengakses fasilitas kesehatan yang memadai. Begitu juga dengan pusat hiburan seperti mall, kolam renang, dan bioskop, tempat-tempat hiburan seperti itu sangat jarang keberadaannya.

· Teknologi di desa belum secanggih di kota. Bahkan sinyal telepon genggam pun terkadang tidak penuh. Hanya operator tertentu saja yang menjangkau wilayah pedesaan dan menyediakan sinyal yang maksimal. Jika kawasan kota sudah ter-cover jaringan 4G, pedesaan mungkin masih bergantung pada kekuatan sinyal 3G.